Tren Investasi Alat Berat di Kalimantan Timur oleh - jasagensetdoosan.xyz

Halo sahabat selamat datang di website jasagensetdoosan.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Tren Investasi Alat Berat di Kalimantan Timur oleh - jasagensetdoosan.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Tren pembelian alat berat belakangan tidak lagi mengutamakan brand tetapi yang lebih penting adalah ketersediaan unit-unit baru yang proses dan delivery-nya cepat, performanya prima,  serta dukungan purna jual bagus.

Haji Ismed Faisal, seorang pengusaha batubara dari Tenggarong, Kalimantan Timur (Dok. pribadi)

Indonesia merupakan pasar paling potensial untuk peralatan berat di kawasan Asia Tenggara. Sebelum pandemi Covid-19 menaklukkan perekonomian negeri ini, usaha tambang batubara dan mineral berkembang pesat. Industri konstruksi juga tumbuh makin cepat yang dipicu oleh maraknya pembangunan berbagai proyek infrastruktur skala besar yang digalakkan oleh pemerintah.

Namun, kondisi berubah dramatis saat pandemi Covid-19 mulai menjalar. Permintaan alat berat terjun bebas semenjak pemerintah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) karena semua proyek dihentikan untuk sementara waktu. Krisis kesehatan global ini berdampak luas di industri alat berat. Selain mesin-mesin menganggur, investasi alat-alat baru pun ditangguhkan atau bahkan dibatalkan sama sekali. Akibatnya, produksi alat dalam negeri anjlok dan pasar alat berat sepi peminat. Kondisi ini berlangsung hingga kini.

Bagaimana mengelola bisnis alat berat di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini? Haji Ismed Faisal, seorang pengusaha batubara dari Tenggarong, Kalimantan Timur, menceritakan pengalamannya menggeluti bisnis yang padat modal ini. Menurutnya, ada tren baru pembelian alat-alat berat, khususnya excavator dan wheel loader, di kalangan kontraktor. Merujuk pada pengalamannya di daerah Kalimantan Timur, dia melihat para kontraktor skala menengah ke bawah mulai kurang peduli lagi dengan isu brand. Namun, yang mereka utamakan adalah ketersediaan unit-unit baru yang proses delivery-nya cepat, performanya prima sehingga mampu bekerja sesuai dengan target produksi serta dukungan purna jualnya yang bagus. 

“Brand penting, tetapi tidak lagi menjadi yang utama. Para kontraktor lebih cenderung mencari alat-alat-alat yang ketersediaannya tinggi, delivery cepat, performa prima dan dukungan purna jual yang bagus,” ucapnya saat berbincang-bincang dengan Equipment Indonesia beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Haji Ismed ini bukan pemain besar di bisnis alat berat, khususnya rental. Tetapi dia mengoleksi beragam jenis mesin dari berbagai merek, baik untuk digunakan sendiri maupun untuk disewakan. Keterlibatannya di bisnis rental hanya sebagai usaha sampingan. Bisnis utamanya adalah jasa pelabuhan, khususnya jetty (dermaga), untuk melayani pemuatan batubara. Dia memiliki beberapa jetty di daerah Tenggarong melalui beberapa perusahaannya seperti PT Indonesia Amanah dan PT Sukses Abadi. Dermaga-dermaga batubara itu digunakan baik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan usahanya sendiri maupun untuk umum. Maklum, dia juga memiliki usaha tambang batubara.

Selain itu, Haji Ismed mengembangkan beberapa bisnis lain seperti pengangkutan (hauling) batubara dari lokasi tambang ke pelabuhan dan kontraktor tambang. Sebagian besar dari alat-alat yang dimilikinya dipakai sendiri di dermaga-dermaga batubara yang dimilikinya dan hanya selebihnya yang disewakan. Dia membutuhkan banyak excavator, loader dan dozer untuk mendukung pemuatan batubara pada beberapa jetty tersebut.

Karena lebih banyak digunakan untuk menangani pekerjaan-pekerjaan sendiri, yang menuntut performa tinggi untuk mengejar target produksi, Haji Ismed lebih pragmatis dalam memilih alat. Apalagi dalam kondisi tambang yang cenderung fluktuatif. Belakangan dia melakukan investasi alat-alat baru, khususnya excavator kelas 20 ton dan 30 ton juga wheel loader, yang tidak berasal dari brand-brand arus utama.

Kriteria dalam investasi alat

 

Haji Ismed punya alasan lain mengapa lebih pragmatis dalam melakukan investasi alat-alat berat. “Bisnis batubara itu sangat fluktuatif. Harga tidak selalu bagus. Ketika harga lagi bagus, produksi kita harus tinggi. Dalam kondisi ini kami memerlukan alat-alat yang bisa bekerja keras untuk mengejar target produksi, dan alat-alat itu mudah diperoleh serta support-nya bagus,” kata Haji Ismed.

Selama ini, ia menambahkan, benefit-benefit tersebut dikuasai oleh brand-brand terkemuka. Namun, dalam beberapa tahun belakangan, mesin-mesin Cina mulai menunjukkan peningkatan, baik dalam hal mutu produk maupun servis. Itu sebabnya dia mulai menggunakan mesin-mesin buatan negeri tirai bambu itu, terutama jenis excavator dan wheel loader.

“Yang diutamakan saat membeli unit-unit baru dalam kondisi seperti sekarang ini adalah prosesnya cepat, harga bersaing, performa prima dan support bagus,” ujarnya ketika ditanya mengenai pertimbangan-pertimbangan utama saat investasi alat dalam kondisi industri tambang yang penuh ketidakpastian seperti saat ini.

Ia mencontohkan SANY. Haji Ismed butuh waktu lama untuk menerima tawaran SANY. “Selama dua tahun SANY mendekati saya, tetapi saya anggap tidak ada apa-apanya. Sudah beberapa kali orang-orang SANY datang untuk menawarkan alat, tetapi saya tidak respons,” kenangnya.

Dia baru tertarik dengan SANY setelah salah seorang kontraktor di usaha tambang miliknya menggunakan excavator SANY kelas 20 tahun. “Performanya tidak kalah dengan alat-alat dari brand-brand terkemuka. Sejak saat itu saya mulai mencoba produk-produk SANY hingga sekarang,” ungkap pria yang pernah bergabung dengan PT United Tractors Tbk ini.

Menurutnya, secara teknis produk-produk Jepang jelas lebih unggul. Namun, dari segi performa, mesin-mesin SANY ini tidak berbeda jauh dari alat-alat Jepang. Apalagi support dari dealernya makin bagus. Suku cadang tersedia. Tim mekanik juga selalu siaga untuk melakukan servis. “Secara bisnis, produk-produk SANY ini jelas lebih menguntungkan karena harganya sangat kompetitif, namun performanya tidak kalah jauh dengan excavator dari  brand-brand terkemuka,” dia membandingkan.

Ada beberapa alasan mengapa haji Ismed kepincut dengan produk-produk asal China ini. Faktor utama, kata dia, pertimbangan harga. “Produk-produk SANY ini lebih murah, tetapi kehandalannya tidak perlu diragukan,” ujarnya. “Saya membuktikan,  setelah dipakai selama lebih dari setahun, alat-alat ini masih bagus,” ungkapnya seakan-akan hendak menepis anggapan segelintir orang  yang masih meragukan ketangguhan mesin-mesin Cina. Ia sudah lebih dari dua tahun menggunakan mesin-mesin SANY.

Menurutnya, selisih harga antara SANY dengan brand-brand lain dari Jepang sangat signifikan. “Budget untuk satu unit excavator Jepang kelas 20 ton saya dapat gunakan untuk membeli tiga produk SANY,” ujarnya tanpa basa basi.

Pertimbangan lain mengapa Haji Ismed memilih SANY adalah karena prosesnya cepat, baik proses transaksi maupun delivery. Yang tidak kalah pentingnya, ia menambahkan, tim mekaniknya selalu stand by. Respons cepat dan suku cadang dihantar langsung ke workshop sehingga downtime mesin tidak terlalu lama.

Support seperti ini, Haji Ismed melanjutkan, sangat mendukung bisnisnya, baik dalam penyewaan maupun untuk dipakai sendiri. Namun, dia mengingatkan, dirinya tidak berpikir untuk menjual kembali alat-alat SANY ini setelah dipakai selama beberapa tahun. Dia tidak menampik kalau banyak buyer lebih mempertimbangkan resale value setelah dipakai selama beberapa tahun. Sebab itu, mereka cenderung mencari alat-alat dari brand-brand terkemuka yang harganya jelas jauh lebih mahal. “Bagi saya, yang terpenting alat-alat yang dibeli bisa bekerja untuk mencapai target produksi, dan support yang bagus dari dealer,” ucap pengusaha tambang yang pernah belakar mengenai tambang bawah tanah di Nagasaki Coal Mining Technology Training Center (Mitsui Matsushima Resourse Co.,Ltd) ini.

Faktor lain yang mendorong Haji Ismed menggunakan SANY adalah engine-nya yang bandel. “SANY pakai solar sembarang saja bisa nyala. Alat-alat dari merek lain belum tentu bisa.”

Yang membuat Haji Ismed agak surprise makin banyak produk-produk Cina yang  masuk ke pertambangan di Kalimantan Timur. Pengguna-penggunanya, kebanyakan, usaha tambang batubara skala menengah ke bawah yang didominasi oleh pemain-pemain lokal. Jumlah pemainnya banyak. “Mereka cenderung tidak terikat dengan brand-brand tertentu dalam urusan investasi alat. Mereka sangat dinamis dan pragmatis. Yang mereka cari adalah alat-alat yang harganya murah, proses pengadaannya cepat tetapi performa dan layanan purna jual bagus,” ia membandingkan perilaku investasi alat dari perusahaan-perusahaan tambang kelas menengah ke atas. Umumnya mereka terikat dengan brand-brand terkemuka tertentu.

Bahkan di pasar rental, kata dia, tarif sewa alat-alat Jepang dan China sudah sama. Untuk yang kelas  20 ton, tarifnya sekitar Rp 275 ribu per jam, sudah termasuk PPN dan PPH. Sementara yang kelas 30 ton sekitar Rp 325 ribu per jam.

Karena berbagai keunggulan tersebut, Haji Ismed berencana untuk melakukan investasi mesin-mesin SANY lagi pada tahun 2020 ini, terutama untuk excavator dan loader, juga crusher excavator, yakni excavator yang dilengkapi dengan alat untuk menggiling batubara. EI

211 kali dilihat, 211 kali dilihat hari ini

Itulah tadi informasi mengenai Tren Investasi Alat Berat di Kalimantan Timur oleh - jasagensetdoosan.xyz dan sekianlah artikel dari kami jasagensetdoosan.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

0 komentar:

Posting Komentar